Ketika Biaya Kesehatan Naik Lebih Cepat dari yang Kita Sadari
Biaya hidup meningkat hampir setiap tahun. Harga kebutuhan sehari-hari naik perlahan, kadang terasa, kadang tidak. Namun, ada satu jenis biaya yang kenaikannya sering kali terasa lebih “mengejutkan”: biaya kesehatan. Banyak orang baru menyadari mahalnya layanan medis ketika benar-benar membutuhkannya. Pemeriksaan lanjutan, rawat inap singkat, hingga tindakan medis tertentu dapat dengan cepat menghabiskan tabungan. Oleh karena itu, asuransi kesehatan menjadi bagian penting dalam perencanaan keuangan modern, baik secara pribadi maupun melalui asuransi kesehatan karyawan.
Namun, di balik manfaat besar tersebut, ada tantangan besar yang sedang dihadapi bersama: inflasi medis.
Inflasi Medis di Indonesia: Fakta yang Tidak Bisa Diabaikan
Inflasi Medis Lebih Tinggi dari Rata-Rata Global
Berdasarkan berbagai laporan industri dan media, inflasi medis di Indonesia tercatat jauh lebih tinggi dibandingkan inflasi umum, bahkan disebut mencapai dua kali lipat dari rata-rata global. Beberapa temuan penting terkait inflasi medis tersebut adalah:
- Inflasi medis Indonesia berada di kisaran 12–15% per tahun
- Inflasi umum berada di level yang lebih rendah
- Kenaikan dipengaruhi oleh biaya obat, teknologi medis, alat kesehatan, dan jasa tenaga medis
Kondisi ini membuat biaya layanan kesehatan meningkat secara signifikan dari tahun ke tahun.
Dampaknya bagi Masyarakat
Dalam praktiknya, inflasi medis berdampak langsung pada:
- Biaya rawat inap yang melonjak
- Pemeriksaan medis yang semakin mahal
- Pengeluaran kesehatan yang sulit diprediksi
Oleh karena itu, tanpa perlindungan yang tepat, satu kejadian medis saja dapat mengganggu stabilitas keuangan jangka panjang.
Dampaknya bagi Asuransi Kesehatan
Di sisi lain, perusahaan asuransi juga menanggung konsekuensi dari kenaikan biaya ini:
- Nilai klaim meningkat setiap tahun
- Frekuensi klaim bertambah
- Beban biaya yang harus dikelola semakin besar
Sehingga, situasi ini menuntut adanya penyesuaian agar sistem asuransi kesehatan tetap dapat berjalan secara berkelanjutan.
Mengapa OJK Mengeluarkan POJK No. 36 Tahun 2025?
Melihat tantangan tersebut, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menerbitkan POJK No. 36 Tahun 2025 tentang Penguatan Ekosistem Asuransi Kesehatan.
Tujuan Utama Regulasi
Regulasi ini dirancang untuk:
- Menjaga keberlangsungan industri asuransi kesehatan
- Melindungi kepentingan tertanggung dan penanggung
- Mendorong pemanfaatan layanan kesehatan secara lebih bijak
- Menghindari lonjakan premi yang tidak terkendali
Dengan kata lain, regulasi ini bertujuan menciptakan keseimbangan agar semua pihak tetap mendapatkan manfaat jangka panjang.
Apa Itu Cost Sharing dan Co-insurance?
Pengertian yang Lebih Mudah Dipahami
Cost Sharing atau Co-insurance adalah mekanisme pembagian biaya layanan kesehatan antara:
- Peserta asuransi (tertanggung)
- Perusahaan asuransi (penanggung)
Oleh karena itu, melalui skema ini biaya klaim tidak sepenuhnya ditanggung oleh asuransi. Sebagian kecil biaya ditanggung oleh peserta, sesuai dengan ketentuan yang telah disepakati dalam polis.
Simulasi Cost Sharing 90% – 10%
Agar lebih mudah dipahami, berikut contoh sederhana:
Contoh Kasus:
- Total biaya rawat inap: Rp20.000.000
- Skema cost sharing: 90% asuransi – 10% peserta
Perhitungannya:
- Ditanggung asuransi (90%): Rp18.000.000
- Ditanggung peserta (10%): Rp2.000.000
Dalam skema ini:
- Sebagian besar biaya tetap ditanggung asuransi
- Peserta berkontribusi dalam porsi yang telah disepakati
- Risiko finansial tetap jauh lebih ringan dibandingkan tanpa asuransi
Simulasi ini menunjukkan bahwa cost sharing tetap memberikan perlindungan signifikan, sekaligus mendorong penggunaan layanan yang lebih terukur.
Cost Sharing Bukan Tentang Mengurangi Perlindungan
Alih-alih melihat cost sharing sebagai pengurangan manfaat, skema ini lebih tepat dipahami sebagai penyesuaian cara kerja perlindungan di tengah kenaikan biaya kesehatan.
Asuransi tetap hadir untuk membantu menanggung risiko besar. Namun, melalui mekanisme ini, pemanfaatan layanan kesehatan diarahkan agar:
- Lebih sesuai dengan kebutuhan medis
- Lebih berkelanjutan dalam jangka panjang
- Lebih adil bagi seluruh peserta
Pendekatan ini memungkinkan sistem asuransi tetap berfungsi secara optimal tanpa membebani satu pihak saja.
Kenapa Cost Sharing Diterapkan?
Cost sharing tidak muncul tanpa alasan. Berikut lima alasan utama mengapa mekanisme ini diterapkan dalam asuransi kesehatan:
1. Menghadapi Inflasi Medis yang Terus Meningkat
Kenaikan biaya kesehatan yang signifikan membutuhkan mekanisme pengelolaan risiko yang lebih adaptif.
2. Mendorong Penggunaan Layanan yang Lebih Bijak
Ketika seluruh biaya ditanggung penuh, penggunaan layanan cenderung tidak terkontrol. Cost sharing membantu menumbuhkan kesadaran dalam memilih layanan yang benar-benar dibutuhkan.
3. Menjaga Premi Tetap Terjangkau
Tanpa pengendalian biaya, premi asuransi berisiko naik tajam. Cost sharing membantu menjaga keseimbangan agar premi tetap lebih stabil.
4. Melindungi Keberlanjutan Manfaat Jangka Panjang
Skema ini membantu memastikan bahwa manfaat asuransi tetap tersedia, tidak hanya hari ini, tetapi juga di masa depan.
5. Menjaga Kesehatan Ekosistem Asuransi
Ekosistem yang sehat memungkinkan perusahaan asuransi terus memberikan layanan, berinovasi, dan melayani lebih banyak masyarakat.
Cost Sharing dalam Asuransi Kesehatan Karyawan
Dalam praktiknya, asuransi kesehatan karyawan telah lama mengenal konsep serupa:
- Batas manfaat tahunan
- Pengaturan kelas perawatan
- Co-payment tertentu
Bagi perusahaan, mekanisme ini membantu:
- Mengelola biaya kesehatan karyawan
- Menjaga keberlanjutan program benefit
- Memberikan perlindungan yang tetap relevan
Bagi karyawan, sistem ini memastikan bahwa manfaat kesehatan tetap tersedia secara konsisten.
Cost Sharing yang Dirancang dengan Baik
Jika diterapkan secara transparan dan proporsional, cost sharing dapat memberikan banyak manfaat. Skema yang dirancang dengan baik justru:
1. Memberikan Perlindungan yang Lebih Berkelanjutan
Manfaat asuransi tetap dapat dinikmati dalam jangka panjang tanpa risiko sistem kolaps.
2. Membantu Mengendalikan Lonjakan Premi
Dengan biaya yang lebih terkelola, premi dapat tumbuh secara lebih wajar.
3. Mendorong Literasi dan Kesadaran Finansial
Peserta menjadi lebih memahami biaya kesehatan dan peran asuransi dalam perlindungan finansial.
4. Mengurangi Potensi Penyalahgunaan Layanan
Penggunaan layanan menjadi lebih tepat sasaran dan sesuai kebutuhan medis.
5. Menjaga Keseimbangan antara Akses dan Keberlanjutan
Peserta tetap mendapatkan layanan, sementara sistem tetap sehat.
Tips Memanfaatkan Asuransi Kesehatan secara Bijak di Era Cost Sharing
Pahami Ketentuan Polis
Luangkan waktu untuk memahami:
- Persentase cost sharing
- Batas manfaat
- Ketentuan klaim
Gunakan Layanan Sesuai Kebutuhan
Pendekatan yang rasional membantu menjaga manfaat asuransi tetap optimal.
Manfaatkan Provider Rekanan
Penggunaan jaringan rekanan membantu proses klaim lebih lancar dan transparan.
Diskusikan dengan HR untuk Asuransi Karyawan
HR dapat membantu menjelaskan detail manfaat dan skema yang berlaku.
Adaptasi untuk Perlindungan yang Lebih Seimbang
Cost sharing dalam asuransi kesehatan hadir sebagai salah satu pendekatan untuk menjaga agar perlindungan kesehatan tetap dapat diakses secara luas, di tengah dinamika biaya medis yang terus meningkat.
Melalui POJK No. 36 Tahun 2025, OJK berupaya menciptakan sistem yang:
- Melindungi masyarakat
- Menjaga industri tetap sehat
- Memastikan akses layanan kesehatan tetap tersedia
Dengan pemahaman yang tepat, cost sharing dapat dilihat sebagai bagian dari solusi—bukan sebagai pengurangan perlindungan, melainkan sebagai cara menjaga perlindungan tetap ada untuk jangka panjang.
Sistem boleh berkembang, aturan boleh menyesuaikan, tetapi tujuan asuransi kesehatan tetap sama: membantu saat kita membutuhkannya. Memahaminya adalah langkah kecil yang bisa membuat perbedaan besar.
Jika kamu ingin melihat opsi perlindungan kesehatan yang dirancang untuk kebutuhan masa kini, informasi lengkapnya bisa kamu temukan di Sunday Insurance.